‘TIDURLAH DALAM DAMAI GURUKU’

Ahirnya …
Bunga nan tumbuh di jalan tengah itupun KAU petik …

Walaupun semerbaknya KAU sisakan… di seluruh belantara hat

Juga segenap lorong jiwa

Tetap saja hatiku berduka…

Terjawab sudah…

Gundahnya hati…

Sesaknya dada…
….?
Tidurlah guruku dalam damai

(Terima kasih adik)

Semarang, 31 Desember 2009

“WAJAH MATA ANAKKU”

karunia maharani

wajah mata anakku


Ketika aku memutuskan menjadi seorang guru, ada perasaan yang terasa begitu mengganjal, bukan lantaran aku tidak ingin menjadi seorang “guru” tetapi memandang profesi seorang guru adalah sebuh pilihan pekerjaan yang luar biasa beratnya, rasa tanggung jawab yang begitu besar dan harus menjadi sosok yang begitu sempurna baik di depan anak didik maupun di masyarakat.

Dikeluargaku sebagian besar adalah seorang guru,Bapakku,pamanku, Kakekku baik dari Bapak maupun dari Ibu. dari mereka semua aku sedikit tahu dan sedikit mengerti tentang bagaimana suka dukanya menjadi seorang guru. tentu saja guru pada saat aku masih kecil dengan guru sekarang sangat jauh berbeda. dari penampilan,gaya hidup sampai ikatan emosional guru-anak didik.

Di tahun-tahun pertama aku menjadi seorang guru perasan terberat adalah memastikan terkendalinya emosi, bagaimana tidak karena selama ani aku selalu hidup di jalanan dengan begitu tiba-tiba semuanya harus terhenti dan terbatasi dengan begitu banyaknya peraturan baik yang tertulis maupun peraturan tata nilai di masyarakat. bahkan aku pernah mengalami suatu kondisi yang begitu kritis antara terus atau berhenti. hanya karena aku merasa telah menentukan pilihan saja yang membuat aku malu jika disebut pengecut.

Tapi bagaimana aku bisa sekolah di keguruan ?, itu juga sebuah episode lagi, semua berawal dari ketidak pahamanku tentang sekolah itupun baru aku sadari saat aku hampir selesai sekolah. semua berawal keika aku masih sekolah di SMA (aku juga pernah sekolah di STM jurusan Mesin di kota Kertosona, Nganjuk) di Sekolah suwasta pada saat itu semua orang yang mampu bisa menjadi guru tidak harus dari sarjana keguruan, Kepala sekolahku seorang Insinyur lulusan universitas Brawijaya malang (Ir.Nanang Harsono), guru Kimiaku seorang Insinyur lulusan Institut Teknologi sepuluh Nopember/ITS Surabaya (Ir.P

SURAT CINTAMU TERLALU PANJANG

BAHTIYAR

BAHTIYAR

Surat cinta itu KAU tulis…begitu panjang…

Tanpa humor…tidak ada roman…seperti yang biasa KAU lakukan…

Sebegitu marahkah…diriMU padaku.?

Kecewa..?

Karena melihat kenyataan…, aku tidak setangguh yang KAMU harapkan..!

Maafkan aku ya..

Mungkin..!

Mungkin… sekarang dimataMU aku telah banyak berubah

Jalan berbatu…dan berliku itu sering membuat aku jadi pelupa

Tapi bukan untukMU

Terima kasih ya..

“WAJAH MATA ANAKKU”

Ketika aku memutuskan menjadi seorang guru, ada perasaan yang terasa begitu mengganjal, bukan lantaran aku tidak ingin menjadi seorang “guru” tetapi aku memandang profesi seorang guru itu adalah sebuah pilihan pekerjaan yang luar biasa beratnya, rasa tanggung jawab yang begitu besar dan harus menjadi sosok yang begitu sempurna baik di depan anak didik maupun di tengah masyarakat.

Dikeluargaku sebagian besar profesinya adalah seorang guru,Bapakku,pamanku, Kakekku baik dari Bapak maupun dari Ibu. dari mereka semua aku sedikit tahu dan sedikit mengerti tentang bagaimana suka dukanya menjadi seorang guru. tentu saja guru pada saat aku masih kecil dengan guru sekarang sangat jauh berbeda. dari penampilannya,gaya hidupnya sampai ikatan emosional antara guru-anak didik.

Di tahun-tahun pertama aku menjadi seorang guru perasan terberat yang aku rasakan adalah memastikan terkendalinya emosi, bagaimana tidak, karena sebelumnya selama ini aku selalu hidup di jalanan dan selalu pindah-pindah dari tempat satu ke tempat tinggal yang lain, dan dengan begitu tiba-tiba semuanya harus terhenti dan dibatasi dengan begitu banyaknya peraturan baik yang tertulis maupun peraturan dalam bentuk tata nilai di masyarakat. bahkan aku pernah mengalami suatu kondisi yang begitu kritis karena harus memilih antara terus atau berhenti. hanya karena aku merasa telah menentukan pilihan saja yang membuat aku malu jika disebut pengecut.

Tapi bagaimana aku bisa sekolah di keguruan ?, itu juga sebuah episode kehidupanku lagi, semua berawal dari ketidak pahamanku tentang sekolah, itupun baru aku sadari saat aku hampir selesai sekolah. semua berawal ketika aku masih sekolah di SMA (aku juga pernah sekolah di STM jurusan Mesin di kota Kertosona, Nganjuk) di Sekolah suwasta pada saat itu semua orang yang dipandang mampu mengajar bisa menjadi guru, tidak harus dari sarjana keguruan, Kepala sekolahku seorang Insinyur lulusan universitas Brawijaya Malang (Ir.Nanang Harsono), guru Kimiaku seorang Insinyur lulusan Institut Teknologi sepuluh Nopember/ITS Surabaya (Ir.Putu Indra Setiawan) begitu juga dengan guru Bahasa Inggrisku Beliau Orang yang lama tinggal di Malborne Australia (Saiful). suatu ketika guru Bahasa Inggrisku itu memberi tawaran kepadaku dan seorang temanku, jika dia bisa merekomendasikan aku dan temanku untuk bekerja di tempat kerjanya yang dulu asal bisa menguasahi Bahasa Inggris dengan baik, tentu saja kami berdua tertarik dengan tawaran itu, maka begitu kami lulus SMA pertama yang kami lakukan adalah mencari lembaga pendidikan Bahasa Inggris yang paling murah dan cepat, temanku pergi ke kota Pare, Kediri dan aku pergi ke Semarang karena pertimbangan biaya, aku mempunyai keluarga di Semarang, dan aku ikut test Sipenmaru mengambil berkas IPC karena SMA ku jurusan A2 (Imu-ilmu Biologi). pilihan pertama tentu saja Bahasa Inggris D2,pilihan kedua juga Bahasa Inggris dan pilihan ketiga tentu saja harus dari jurusan IPA maka aku isi saja dengan Fisika D2, singkat cerita: begitu pengumuman apa yang terjadi ternyata aku di terima di jurusan Fisika D2, tentu saja aku bingung apa yang harus aku lakukan ? (waktu itu aku belum mengerti bahwa IKIP itu sekolahnya calon guru, aneh kan ?) dan dengan pertimbangan sana-sini akhirnya aku tetap menjalani sekolah itu meskipun dengan perasaan agak berat, akhirnya rampung juga (sedikit cerita bahwa nilaiku waktu sekolah sebagian besar adalah pemberian Tuhan, hampir tanpa usaha) itulah sebabnya kenapa aku sampai sekarang begitu percaya dengan kekuatan do’a.

Setelah tiga tahun aku menjadi guru aku mulai sedikit mengerti bagaimna mestinya jadi seorang guru itu, semakin lama semakin membaik pemahamanku tentang profesi guru dan lama-lama aku begitu mencintai pekerjaanku. sebagai seorang guru satu hal yang aku tidak mengerti adalah perubahan kejiwaanku terhadap anak-anak didikku, aku semakin memiliki ikatan emosional yang sngat kuat terutama jika aku menjadi wali kelas. bukan hanya ketika masih mendampingi mereka tapi setelah mereka keluar dari sekolah. aku masih ingat banyak sekali kejadian pada waktu itu yang tidak pernah aku lupakan sampai sekarang, misalnya kejadian pada jam 12 malam ada orang ketuk-ketuk pintu rumahku, tentu saja aku sempat bertanya-tanya siapa malam-malam begini ketuk-ketuk pintu ?, begitu aku buka, apa yang aku saksikan ? dua orang anak sambil cengar-cengir bilang padaku ” Pak anak-anak sedang heking ke Desa Windurojo, Bapak sekarang di suruh kesana.!” tentu saja aku marah sekali waktu itu, bagaimana tidak ? Heking atas nama sekolah apa pribadi juga tidak tahu, ijin orang tua apa tidak ? bermalam lagi !, tapi apa jawab mereka ?,”Berangkat sekarang pak !” (lha dhalah ini anak !) tentu saja akhirnya aku mengalah. di kejadian yang lain aku pernah naik motor di Kajen dan kebetulan mogok di tengah jalan, tiba-tiba ada orang dari belakang menghampiriku dan bertanya ” Kenapa Pak ?” aku jawab “tidak tahu, tiba-tiba mogok ?” dia bilang “saya dorong ya Pak !, ke bengkel dekat situ kok !” “Ayo !” jawabku, sampai di bengkel orang itu mendekatiku kemudian bertanya “lupa sama saya ya Pak ?” “tidak !” jawabku (kelihatannya dia tidak yakin dengan jawabanku) dan dia menambahi pertanyaannya ” Aku murid bapak yang mbeling dulu !” (dalam batinku hanya bisa berkata ” SubkhanaLLAH..!!). sejak saat itu aku mulai mengerti dan menyadari kenapa para ahli pendidikan seperti Prof.Arif Rahman itu mengatakan jika seorang guru harus menghukum seorang anak hukuman fisik sekalipun ” Hukumlah dengan hati”. Karena anak-anak yang sekarang ini, yang terkadang kita lupa menyebutnya nakal, kurang ajar,tidak punya akhlak dan seterusnya itu ternyata jika telah datang tingkat ke’sadar’annya semua akan menjadi harta yang tidak ternilai harganya.

Sebenarnya ketika aku mengajar SMP 2 Talun, kebiasaanku dekat dengan anak-anak seperti itu akan berusaha aku hilangkan, karena keterbatasan waktuku dan tenagaku yang semakin habis di perjalanan begitu mengkhawatirkan, aku tidak mau anak-anakku’ itu menjadi terluka hatinya karena memang kondisiku yang tidak sanggup untuk di toleransi, walaupun naluri itu kadang-kadang muncul lagi tidak bisa dibendung,cerita anakku’ jazaul khoeroh dan anak kandungku tifani misalnya, Jazaul khoiroh adalah anakku’ yang paling pinter di Sekolah dalam hampir semua pelajaran, terutama pelajaranku (IPA) belum pernah mendapatkan nilai ulangan kurang dari 6, maka betapa kagetnya aku ketia try out tingkat Kabupaten kemarin mendapat nilai 3 untuk pelajaran IPA, ketika aku panggil aku hanya menanyakan ” sebenarnya ada apa ? ” dia hanya menjawab “iya Pak !” tetapi ternyata ceritanya belum selesai sampai disitu, ketika pengumuman kelulusan kemarin dia meraih nilai terbaik rata-ratanya lebih dari 8, tetapi anehnya dia tidak terlihat begitu gembira seperti teman-teman lainnya, dan akhirnya aku tanya ( pertanyaan yang sering aku sampaikan padanya ) “Bagaimana ?” jawabnya:”dia cuma menangis..!! ” aku tanya lagi “Soal biaya ya ?” dia menjawab dengan tatapan mata yang kosong “Iya Pak !” aku langsung menjawab ” kamu sekarang pulang !” karena aku tidak sanggup menatap “wajah mata anakku itu” dan hanya merintih sedih dalam hati “Ya ALLAH apa maksud-MU ?, tolonglah hambamu ini diberi pemahaman !” dan akhirnya dengan sisa tenagaku akupun pulang, bumi tempat ku berpijak rasanya bergoyang, melangkah terasa bagaikan terbang…, sedih… perih… sakit rasanya… ketika sampai di depan rumah kudapatkan anakku dengan wajah ketakutan “Abah… Aku gagal naik kelas..! maafkan aku..? akhirnya air mataku tak sanggup kutahan..!!

Hari-hari ini aku hanya sanggup memanjatkan do’a, membesarkan hati anak-anakku, ” Ya ALLAH jika semua itu terjadi karena keadilan-MU, berikanlah mereka kesabaran jiwa, berikanlah mereka keteguhan hati, berikanlah mereka kekuatan Iman, agar kelak dia menjadi manusia yang seluruh hidupnya hanya untuk mengabdi kepada-MU” tetapi jika semua itu terjadi karena lampiasan segelintir nafsu, aku mohon kepada-MU… Ya ‘Azis…aku mohon kepada-MU ya ‘ADHIM… aku mohon kepada-MU ya ‘ADIL… tunjukkanlah kepadaku keperkasaan-MU… tunjukkanlah kepadaku… keagungan-MU…Amin..! Amin..! Amin..!

NAMANYA PRITA MULYASARI

Beberapa hari yaang lalu kita dikejutkan adanya kasus yang menimpa seorang Ibu ‘ Namanya prita mulyasari’. Ceritanya begitu memilukan, Berawal dari keinginan untuk mencurahkan isi hati dari perlakuan yang kurang layak dari sebuah Rumah sakit yang menimpa dirinya melalui Email yang ditujukan kepada teman-temannya, Yang kemudian menyebar kemana-mana dan berujung pada masalah hukum. Dan yang tidak kalah mengejutkan lagi kasus itu muncul ke permukaan justru ketika dia sudah merasakan pengapnya sel tahanan selama lebih kurang dua minggu. Kita (terutama Media Massa) sepertinya kecolongan, Mungkin karena dalam waktu yang hampir bersamaan semua terkfokus pada kasus yang tidak kalah hebohnya, yaitu kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dialami mantan model Manohara odilia Pinoti dengan seorang pangeran yang konon mengalami gangguan kejiwaan (Sadisme Sex) dan Kampanye para calon presiden.

Begitu ramainya diperbincangkan masalah Prita mulyasari ini sampai-sampai Kepala Negara merasa perlu ikut menanggapinya (Dalam menjalankan proses Hukum kita harus mengedepankan rasa keadilan dan hati nurani..? )
Banyak pelajaran yang dapat kita dapatkan dari peristiwa Ibu Prita mulyasari ini misalnya :
1.Kita Harus semakin mel’ek Hukum
Orang-orang seperti saya ( Yang begitu Ketinggalan perkembangan Teknologi Informasi ), mungkin agak sulit untuk mengerti bagaimana tulisan dalam bentuk Email itu bis berujung di dalam sel ?, Karena kita baru saja merasakan sedikit lega dengan hadirnya Undang-undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE), Yang dapat menaikkan kepercayaan tentang kometmen kita terhadap pemberantasan kejahatan cyber (Cyber crime), Karena di Negara kita diduga mencapai 70% kejahatan atas hak kekayaan intelektual terjadi pada komponen teknologi semikonduktor dan turunannya
Sebenarnya pertanyaannya masih tetap saja sama :’Dimanakah batas antara hak Publik dan hak privasi ?’, Tulisan dalam bentuk Email itu milik pribadi apa Publik ? dan apakah orang yang menyebarkan isi Email dari orang lain dapat dianggap melanggar hukum ?
2.Kita harus dapat mengikuti Perkembangan teknologi Informasi (IT)
Saya tentu sulit untuk dapat membayangakan seperti apa perkembangan Teknologi informasi ini pada era generasi anak-anak saya, Alangkah semakin mininya dunia ini, Karena hampir setiap hari selalu muncul penemuan baru yang terkadang tak pernah kita duga seperti demam face book yang sedang melanda dunia sekarang ini
Bukan hanya perkembangan teknologinya yang harus kita ikuti tetapi dampak lain yang menyertainya, Hukum, sosiaal budaya dan lain-lain agar kita tidak jadi orang yang dianggap “nyeleneh” seperti fatwa haram Majelis Ulama Indonesia untuk penggunaan face book menurut sebagaian orang.
3.Kita harus awasi tingkah laku pengambil kebijakan
Sebagian besar oraang-orang pemegang kekuasan sekarang ini adalah orang-orang jaman dulu, Terutama di bidaang Birokrasi, Yang sistimatika berfikirnya telah diseting menggunakan program lama yang sangat ketinggalan jaman, Walaupun ada yang memiliki keinginan untuk berubah mengikuti tuntutan pola berfikir jaman sekarang tetapi kebanyakan mereka kedodoran (Mungkin file memori otaknya tidak muat). Sehingga sering kali kita jumpai tingkah laku maupun produk dari hasil kebijakanya jadi aneh-aneh,lucu,tidak sinkron dengan situasi. Coba baca beberapa produk Hukum yang terbit sekarang ini, dari keputusan yang dihasilkan di tingkat terendah di tempat anda bekerja misalnya (kecuali di tempat saya) sampai Undang-undang yang dihasilkan dari ijma para anggota DPR, Apalagi aplikasinya. Jadi kita tidak usah kaget dengan keputusan menejemen Rumah Sakit Omni Internasional,Jaksa,Polisi dan Hakim yang memperlakukan Ibu prita mulyasari seperti itu, Dan kita layak menduga bahwa masih banyak prita-prita lain yang mengalami perlakuan seperti itu yang tidak atau belum terungkap di Negeri ini.
Dan akhirnya kasus Ibu Prita mulyasari juga Manohara odilia Pinot menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, Amin

bakhtiar tsani

bakhtiar tsani

SOK LOGIS

Semakin mendekati hari H pemilu semakin terasa hangatnya suhu politik di negeri ini, Hampir semua kegiatan yang melibatkan orang banyak selalu dijadikan momen untuk promosi kecap politik, dari dukun tiban ponari, kasus koropsi yang melibatkan anggota DPR sampai pengajian tingkat RTdi desa terpencil di pucuk gunung
Tapi dari banyak peristiwa itu hal yang paling tampak begitu ganjil adalah besarnya sahwat politik penggede itu telah menjungkirbalikkan logika rakyat, contoh kecil peristiwa dukun ponari, Banyak orang berpendapat itu adalah cerminan dari kegagalan pemerintah dalam pengelolaan bidang kesehatan (tentu saja rakyat kecil seperti saya langsung berpikir hebat sekali orang itu dalam mengambil kesimpulan..??) yang lebih menyeramkan katanya kasus ponari adalah syirik.?. Disisi lain banya orang yang akan maju menjadi calon legislatif bulan depan mulai tampak begitu rajin pergi ke kìyai,dukun dan tempat keramat untuk semedi mencari wangsit, jadi pertanyaannya siapakah yang rasional? dan siapa yang irasìonal?

GAZA MENANGIS

Tolong tanyakan pada Ariel sharon…!

Apakah darah dan air mata anak-anak Palestina di Sabra itu belum cukup..?

Darah dan air mata di Catilla itu belum cukup..?

Apakah kau sebegitu lupa pada Firaun dìmasa lalu… Babylon… Atau Roma…
Atau ‘Gustaf adolf hitler’ yang bayanganya belum pergi…

Lalu dirimu itu apa..?

Anak Tuhan..?!

Hingga harus katutupi tanah Daud seluruhnya dengan darah…

Wajahmu mirip manusia… tapi…?

Kenapa di dadamu tak tersimpan setetespun hati nurani..?

Hentikan..!!

Kau bukan siapa-siapa…!!

Walau selamanya kau buat Gaza menangis…

… JALAN ‘ABIKU’

Satu nafas… dan terhenti…!

Tak ada yang tertinggal

Hiruk pikuk kehidupan

Gundah… resahnya hati….

Juga jiwa nan meradang…
memendam rindu dan kenangan

Temuilah ‘kekasih’mu itu, dengan jiwa yang tenang dan damai

Aku titip salam mesra padanya… ‘I love you’ umi…

Tak banyak yang dapat ku sertakan

Mungkin..! sepenggal do’a dikala senja dan di pagi hari… kan slalu kuhantarkan

Untuk mengikat erat cintamu nan abadi…

Selamat jalan abiku…!

Selamat berjumpa umi

Semoga kau berdua selalu damai di sisi NYA…

Amin…!

GALAU

Ada api yang baranya cukup untuk membakar semua yang di dada..! sering terlintas di benak, Kenapa tidak ku padamkan saja.? atau sudahlah… tinggalkan saja semuanya..! selesai kan..?

Ya..! inginya aku juga seperti itu..! tapi nyatanya tetap saja..!’aku tak sanggup..!’ dan sampai kapan..? aku tak tahu..! rasanya semua yang ada hanya akan memperbesar nyala api itu… kalau toh hari ini tidak terjadi apa-apa… itu karena semua tenagaku kucurahkan hanya untuk itu… tapi sampai kapan aku sanggup..? hari ini saja aku sudah lelah..! capek..! rasanya aku mau menyerah… dan kubiarkan saja api itu membakar semuanya… dan akan ku ikuti kemana saja naluriku pergi… melanglang buana menembus cakrawala… biru-nya langit… tentunya denganmu…

Lihat saja pagi ini..! indaah sekalì..! mentari itu..? tumben nongol..! musim begini biasanya ujaaan teruss..! atau paling tidak mendung…dan ‘dingin’, tapi pagi ini hangaat sekali…

ANDAI SEMUA BERLALU

Semula aku duga bara itu akan padam seiring dengan berjalanya waktu… tapi nyatanya ini hampir tahun ke enam… jangankan padam..! malah merajalela kemana-mana..! merusak jìwa dan menyesakkan dada… aku sedih sekali jika melihat hati ini..! kenapa aku jadi yang tidak punya nyali? aku tahu..! membuat keputusan yang keliru itu masih lebih baik dari pada tidak berbuat apa-apa,seperti saat ini

Entahlah..! rasanya aku tak dapat mengingat yang keberapa lagi..! dimana aku selalu bertanya ‘Apa sih yang aku harapkan dari semua ini..?’ tidak ada kan?

Tahu gak apa yang paling aku khawatirkan hari-hari terahir
ini? hadirnya rasa ‘kesepian’ karena kitidak hadiran dirimu.! (bersambung)

« Entri lama