FATWA MUI ‘ROKOK’ KHARAM

Sebentar lagi majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa tentang ‘kharam merokok’
,maka masalah
yang mungkin muncul adalah 1.Apakah fatwa itu cukup layak untuk di keluarkan?
2.Apakah landasan hukumnya cukup kuat
3.Bagaimana dengan independesi Ulama
4.Reaksi berantai
Saya adalah salah satu orang yang tidak setuju dengan keluarnya fatwa itu,karena pendapat ‘kharam’ itu sama sekali tidak mewakili pendapat mayoritas ulama Indonesia(baca:sunni), khususnya ulama tradisional(baca:NU),karena banyak dari mereka itu perokok, bahkan perokok berat dan tidak sedikit dari mereka itu yang memanfaat perusahaan rokok pada lembaga-lembaga pimpinanya, coba lihat kiprah PT.Gudang garam di pesantren- pesantren di P.Jawa khususnya di wilayah Jawa timur.

Ulama kita umumnya berpendapat merokok itu pada tingkat makruh,tentu saja pendapat itu disampaikan oleh ulama yang secara individu seorang perokok.

Alasan kedua saya tentu saja karena ‘saya seorang perokok’, Kenapa saya jadi perokok?, Jawabnya: karena saya dilahirkan,tumbuh,dan dibesarkan di lingkungan perokok.di masa kecil saya,tidak ada bedanya antara perokok dan bukan perokok,sama-sama nyedot asep,tar,nikotin,CO,dan lain sebagainya.

Alasan lain karena merokok itu rasanya ‘uenak tenaaan’ dan tak mungkin dijelaskan pada orang yang tidak doyan rokok karena sama dengan menjelaskan Orgasme coitus pada perawan yang baru menstruasi pertama, repot kan?

Iklan

5 respons untuk β€˜FATWA MUI ‘ROKOK’ KHARAM’

Add yours

  1. Saya setuju dengan fatwa haramnya rokok,karera kalau dipikir2 rokok itu memang madlaratnya lbih banyak dari pada manfaatnya,bahkan manfaatnya tdk ada sama skali,!walaupun saya perokok,tapi doakan saja supaya saya bisa berhenti ngrokok!amin

  2. Saya 2 tahun lalu perokok. Tapi Alhamdulillah ketika saya coba fikir2 + analisa dalil-dalil yang ada, akhirnya saya berhenti merokok. Dan kala itu saya sudah bertekad utk tidak merokok. Tapi terkadang karena teman pada nawarin rokok, kadang-kadang merokok lg.
    AKHIRNYA begitu saya baca2 artikel ttg keharaman rokok menurut ulama-ulama besar internatiOnal seperti Yusuf Qardawi dll beserta dalil2nya akhirnya secara pribadi saya anggap ROKOK ADALAH HARAM.
    Dan sejak itu saya berikrar kepada ALLAH SWT bahwa jika saya merokok maka sama saja saya makan daging harimau (khan harimau gak disebut jg di Alquran).
    ROKOK ITU BAIK ATAU BURUK, BAHAYA ATAU TIDAK ? JAWABAN SESUNGGUHNYA ADA DALAM HATI KOK. tapi kebanyakan Muslim Perokok (termasuk saya dulu) acuh terhadap hal itu. Astaghfirullah
    lihat link :
    http://www.halalguide.info/content/view/252/

    Semoga Allah membuka mata hati saudara-saudaraku khususnya “Muslim perokok”, amin.

    Buka hati dan baca Puisi terkenal dari Taufiq Ismail dgn judul :
    TUHAN SEMBILAN CENTI berikut ini :

    TUHAN SEMBILAN CENTI
    Oleh Taufiq Ismail

    Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
    tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

    Di sawah petani merokok,
    di pabrik pekerja merokok,
    di kantor pegawai merokok,
    di kabinet menteri merokok,
    di reses parlemen anggota DPR merokok,
    di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
    di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
    di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
    di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
    di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

    Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok,
    tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

    Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
    di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
    di kampus mahasiswa merokok,
    di ruang kuliah dosen merokok,
    di rapat POMG orang tua murid merokok,
    di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

    Di angkot Kijang penumpang merokok,
    di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
    di loket penjualan karcis orang merokok,
    di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
    di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
    di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

    Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
    tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

    Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
    Di pasar orang merokok,
    di warung Tegal pengunjung merokok,
    di restoran, di toko buku orang merokok,
    di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

    Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok,
    bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
    ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

    Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
    Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya.
    Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

    Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

    Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

    Istirahat main tenis orang merokok,
    di pinggir lapangan voli orang merokok,
    menyandang raket badminton orang merokok,
    pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
    panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola
    mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

    Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-‘ek orang goblok merokok,
    di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
    di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

    Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok,
    tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

    Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

    Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning
    dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
    Mereka ulama ahli hisap.
    Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
    Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.

    Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil,
    sembilan senti panjangnya,
    putih warnanya,
    kemana-mana dibawa dengan setia,
    satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

    Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
    tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
    cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
    Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

    Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
    Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
    Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
    Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
    Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
    Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
    25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
    15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
    4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

    Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
    Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu,
    sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

    Jadi ini PR untuk para ulama.
    Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
    lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

    Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
    Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
    yaitu ujung rokok mereka.
    Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
    Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

    Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
    sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
    Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
    lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
    cuma setingkat di bawah korban narkoba,

    Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
    jutaan jumlahnya,
    bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
    dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
    diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

    Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
    tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
    karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

    Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

    http://harry.sufehmi.com/archives/2006-07-06-1203/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑