TANJUNG PRIUK BERDARAH LAGI

Miris dan heran rasanya melihat tayangan televisi tentang kejadian bentrokan berdarah yang terjadi di dekat terminal peti kemas Tanjung priuk, Koja, Jakarta utara antara masyarakat dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan POLRI pada hari rabu tanggal 14 april 2010, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan ratusan korban luka-luka juga korban harta benda dari semua pihak. Kerusuhaan itu dipicu oleh rencana Pemerintah DKI dan Pemkot Jakarta utara untuk menggusur makam Habib Husein bin Muhammad Al haddad atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama “ Mbah Priuk ” karena secara hukum (versi Pemda DKI dan Pelindo II ) makam itu menempati lahan yang bukan haknya dan dianggap mengganggu operasional bongkar muat pelabuhan tanjung priuk yang dikelola oleh PT Pelindo II yang sedang berupaya untuk memenuhi setandart pelabuhan Internasional yang ditetapkan. Kerusuhan itu lebih mirip dengan kondisi riel masyarakat Indonesia saat ini, disatu sisi masyarakat yang ingin mempertahankan makam mbah priuk adalah yang mewakili masyarakat yang masih memegang teguh nilai agama dan tradisi juga budaya leluhur yang relegius (Spiritualisme), di pihak lain mewakili masyarakat kita yang mulai mengikuti rasionalitas modern atau kaum kapitalis (Materiaalisme), dalam hal ini otoritan PT Pelindo II ditambah Pemerintah daerah Kusus Ibukota Jakarta. Kita miris bukan hanya karena melihat tayangan brutal terjadinya bentrokan itu, tetapi lebih miris jika membayangkan apa yang ada di pikiran para pemimpin kita pada saat ini, orang-orang yang sedang memegang kekuasaan di negara kita. yang logikanya “seharusnya“ merupakan sistem yang dapat menjembatani konflik dan melindungi (mengayomi) masyarakat tetapi dalam kenyataannya malah menjadi pemicu terjadinya bencana kemanusiaan itu, banyak pertanyaan sederhana yang sulit untuk bisa dijawab, siapa sebenarnya yang mengangkat para penguasa itu ? bagaimana bisa seorang penguasa yang konon dipilih atau diangkat oleh rakyat dengan begitu arogannya mau menukar-gulingkan “rasa spiritualisme” dengan nilai-nilai kapitalisme dan materialisme? dan rasa spiritual itu adalah rasa orang timur atau rasa orang Indonesia, atau rasa orang jawa/betawi, bagaimana bisa makam dinilai dengan uang dua setengah milyar dan sebidang tanah hanya untuk memenuhi gengsi kapitalis yang distandarkan oleh kaum Angelo saxon? dan lain sebagainya. Heran ! kenapa kita tidak sanggup lagi belajar dari sejarah kita sendiri? apa kita lupa, sejarah kita di masa lalu?, apakah yang memicu terjadinya perang diponegoro selama lima tahun? penggusuran makam kan ! apa arti sebuah makam bagi orang timur? apa arti sebuah makam bagi orang indonesia? dan apa arti sebuah makam bagi orang jawa/betewi? jawaban yang pasti bukan sekedar jasad tak bernyawa yang telah dikubur dan kelak diuraikan oleh mikroorganisme dan kembali menjadi unsur penyusun semula di tanah. apa kita juga tidak tahu beberapa masyarakat kita bahkan mengklaim Wali songo memiliki beberapa makam (sunan Bonang misalnya)! apa kita akan mengatakan masyarakat kita masih sangat bodoh atau primitif karena masih memelihara kebiasaan-kebiasaan kurafat atau musrik (menurut sebagaiaan orang)! karena menganggap bahwa jasad sunan Bonang itu ada banyak ? atau berasumsi bahwa orang Islam (tradisional/konservatif/ortodok kususnya) itu percaya adanya reinkarnasi (satu roh menempati banyak jasad)? bukankah Habib husein bin Muhammad Al haddad alias bah priuk yang berasal dari Hadralmaut (Yaman) itu adalah sesepuhnya muslim betawi atau tanah jawa, dan Gubernur DKI Jakarta saat ini juga orang betawi (coba ingat berapa kali orang Jakarta memiliki gubernur orang betawi ?) apa ia orang betawi sudah lupa kepada leluhurnya?

A. Masa lalu adalah tonggak sejarah yang turut menentukan sebuah masa depan
Andaikan saja para pemimpin kita saat ini tidak sanggup lagi membaca sejarahnya sendiri, kenapa tidak belajar saja dari yang ada di depan matanya saat ini? kenapa negara Amerika serikat yang katanya adidaya/digdaya itu tidak sanggup menangkap Usamma bin laden (yang dianggap pemimpin teroris) itu setidaknya sampai saat ini? jawabannya adalah: karena dia dilindungi oleh kaum Thaliban kan?, kenapa kaum Thaliban melindungi Usamma bin laden!, karena dia datang ke negeri Afganistan itu sebagai seorang “tamu“, Negara Amerika tidak bisa belajar dengan baik dan benar tentang pengalaman kolonial Prancis tentang pemberontakan di negeri jajahannya Qipti(mesir) di masa lalu. perlu diingat yang diadopsi negeri Qiptiyah dari tanah arab itu bukan hanya agama Islam tetapi juga budaya arabnya, termasuk tentang budaya menghormati “tamu“ meskipun Qiptiyah sama sekali bukan smits apalagi arab apalagi farisi. (di masa lalu kita kurang dapat membedakan antara orang arab, orang gujarat, Qiptiyah dan orang farisi. Asal kulit putih ada jenggotnya hidungnya mancung dan beragama Islam maka kita sebut saja orang arab, kadang kita panggil Saiyed atau Sekh, dan ketika ada farisi melakukan kawin mut’ah beberapa kiyai kita agak kesulitan menjelaskan kepada masyarakat, bahkan ada yang kiyainya sendiri tidak mengerti? Inilah yang pernah disampaikan oleh gus Dur bahwa secara kultural NU itu adalah Syi’ah (yang sempat bikin heboh itu), dan jika dilihat dari rasnya orang arab itu lebih dekat (saudara) dengan orang Israil/bani Israil) dibandingkan dengan orang Qipti apalagi farisi yang indo german alias Arya, lihat sejarah Abrah-am/im). Jika kita baca bukunya M.Hert dalam “seratus tokoh paling berpengaruh di dunia” versi terjemahan Mahbub Junaidi (wartawan dan pemikir NU) salah satu alasan kenapa Muhammad diletakkan di peringkat teratas dalam urutan itu adalah: Muhammad bukan hanya membuat revolosi budaya dunia dan tanah arab kususnya tetapi juga meng”arab” kan negeri-negeri yang sama sekali bukan arab, misalnya Qipti/Mesir, Farisi/Iran bahkan sampai ke eropa tempo dulu (Romawi timur/Turki) di jaman Ottoman/Usmanniah), Andalusia/Spanyol sampai ke tanah Balkan (Pecahan USSR), jadi jika duapuluh tahun yang lalu ada orang yang mengatakan ada Ulama Hadits termashur yang bernama Imam Bukhori,r.a itu adalah orang Uni soviet rasanya di telinga kita agak aneh kan? walaupun itu benar! (jadi gak ada tu di kitab kuning kalimat yang bunyinya Al Unisoviettu utawi uni soviet? hahaha..!). adalagi yang lebih seru..! Abu Hassan Ali bin Ismail Almaturiddi,r.a yang pelajarannya dijadikan teks-book oleh kelompok Suni/Ahli sunnah wal jama’ah kususnya di Indonesia itu orang mana hayo?, itu sama kacaunya jika kita melihat siaran budaya dari televisi Al jazair dan televisi prancis, apa bedanya ? atau ingin yang lebih kacau lagi ? ya mengikuti dagelan-nya kasus Bank Centuri (maaf saya termasuk orang yang setuju dengan tindakan Ibu Dr.Sri mulyani indrawati, ojo jengkel . !). Jadi kita harus pandai bercermin dari sejarah / masa lalu kita, karena: “Masa lalu adalah tonggak sejarah yang turut menentukan sebuah masa depan. Namun ada kalanya kenangan masa lalu itu harus kita buang jauh-jauh dan kubur dalam-dalam, demi masa depan itu sendiri, hanya kitalah yang tahu mana yang harus dikenang dan mana yang harus dubuang“. (Rhoma Irama)

B. Kenapa harus dengan darah ?
Satu lagi yang membuat kita sedih, bencana itu terjadi berdekatan dengan 100 hari meninggalnya tokoh humanis, pluralis dan guru bangsa kita, KH Abdurrohman wakhid. orang yang telah bersusah payah menanamkan spirit anti kekerasan, orang yang mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat di selesaikan dengan jalan damai. Institut seni Indonesia baru saja menggelar seminar mengenai: Kemungkinan “cara berpikir” ala Gus Dur (Suara merdeka, 18 april 2010, hal.13) kenapa sudah harus kita kotori dengan darah? kenapa harus diselesaikan dengan perang?
Kita jadi ingat, apa yang pernah disampaikan oleh mantan Kabareskrim Susno duaji : “Orang hidup itu hanya ada dua, membuat sejarah atau membaca sejarah!“, jadi andaikan kita hanya dapat membaca sejarah, semoga kita dapat “membaca” sejarah kita dengan baik dan benar. yang kedepannya dapat kita gunakan untuk membangun Indonesia yang makmur spiritualnya dan materialnya.
Dan semoga kejadian di Tanjungpriuk itu dapat diselesaikan dengan damai dan tidak terulang lagi, karena jika tidak pastilah kita semua yang rugi, Amin! (bersambung)

Iklan

Satu respons untuk “TANJUNG PRIUK BERDARAH LAGI

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑